Seni Tradisi Reog Dodog

Bagikan

·

Kepuh dan Kenteng memiliki kekayaan seni tradisi yang masih hidup dan terus dijalankan oleh masyarakat. Sejumlah kelompok kesenian tetap aktif memainkan dan merawat berbagai bentuk seni lokal, seperti Reog Dodog, jathilan, karawitan, dan srandul. Kesenian-kesenian tersebut tidak hanya hadir saat perayaan atau hiburan warga, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan sosial masyarakat, ruang kebersamaan antarwarga, sekaligus sarana mewariskan nilai budaya dari generasi tua kepada generasi muda.

Potensi seni lokal ini menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian dalam Program Kampung Emas UNY. Dalam perencanaan Kampung Emas Kenteng dan Kepuh, seni budaya secara khusus termasuk dalam enam bidang pengembangan utama bersama pendidikan, ekonomi dan UMKM, pertanian dan peternakan, lingkungan, serta kesehatan dan olahraga. Pendekatan tersebut menempatkan budaya bukan sekadar sebagai pelengkap kegiatan, melainkan sebagai potensi masyarakat yang perlu diperkuat dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Salah satu bentuk pendampingan yang telah dilakukan UNY adalah penguatan Reog Dodog bersama kelompok Reog Tri Manunggal di Dusun Kenteng. Kegiatan dilakukan melalui pelatihan gerak, komposisi dan pola lantai, hingga koreografi, kemudian hasilnya ditampilkan dalam pembukaan Program Kampung Emas. UNY juga mencatat bahwa pendampingan seni diarahkan pada pembentukan komunitas, latihan rutin, pementasan berkala, regenerasi pelaku seni muda, serta pengembangan potensi wisata edukasi budaya.

Perhatian terhadap seni tradisi juga terlihat dalam kegiatan KKN UNY di Kenteng yang menghadirkan panggung apresiasi bagi kesenian lokal seperti karawitan, thoklik, dan tari tradisional. Kegiatan semacam ini menjadi ruang pertemuan lintas generasi—anak-anak, pemuda, hingga sesepuh—untuk terus mengenal, memainkan, dan mengapresiasi budaya setempat. Dengan dukungan masyarakat dan pendampingan UNY, kesenian tradisi di Kepuh dan Kenteng memiliki peluang besar untuk terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Comments

Punya Tanggapan? Tulis Komentar Anda

Nama dan email wajib diisi. Alamat email tidak akan dipublikasikan.